MALUKU

Assagaff: Generasi Muda Banyak Belajar pada ‘Agama Internet”

Gubernur Maluku, Said Assagaff

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Gubenrur Maluku Said Assagaff mengungkapkan dewasa ini generasi muda lebih mempercayai dan suka belajar pada sebuah fenomena beragama yang disebut sebagai “agama internet”.

Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Kegiatan Expo Bioma 17, Program Studi Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) IAIN Imam Rijali Ambon, Jumat (3/11/2017).

“Ada “ulama internet, Kyai internet, Pendeta internet, atau Pastor internet, yang terkadang kompetensi dan keabsahan informasinya masih diragukan”, daripada mempercayai dan belajar pada ulama, kyai, ustaz, pendeta, dan pastor secara langsung,ungkap Assagaff .

Demikian halnya, keterjebakan pada informasi-informasi yang berbau sampah di media sosial, dalam bentuk ujaran-ujaran kebencian (hate speech), berita-berita bohong atau fitnah (hoaks), dinilai Assagaff, turut sangat mempengaruhi terbentuknya “musuh imajiner”, mental blok, yang nyaris menimbulkan disintegrasi bangsa ini.

“Maka tidak mengherankan, fenomena beragama seperti ini, sangat rentan terhadap proses cuci otak dan membuat generasi muda terjebak pada aliran sesat dan radikalisme agama,” kata Assagaff mengingatkan.

Tuntutan profesionalisme dewasa ini, disebutnya, merupakan sebuah keniscayaan, jika tidak profesional, kita tidak akan diperhitungkan dalam era kompetisi global dewasa ini.

“Tapi satu hal yang perlu katong ingat, profesionalisme tidak mesti menjadikan katong hanya menjadi ahli di satu bidang, dan membuat katong buta terhadap bidang yang lain,” imbuhnya.

Keterjebakan dalam cara pandang seperti ini, menurut Assagaff, melahirkan “ilmuan tukang”. Padahal profesionalisme dewasa ini harus tetap berlandaskan pada paradigma, bahwa suatu keahlian tidak bisa dilepaskan dari bidang yang lain, terutama nilai-nilai kearifan hidup dan life skill.

Ada juga masalah lain yang menimpa generasi milenial ini, sebut Assagaff, yakni fenomena keterjebakan generasi muda pada mentalitas gerombolan.

Dia menambahkan, generasi muda saat ini, juga lebih suka bergerombol atau manggurebe pada satu masalah atau bidang. Misalnya fenomena maraknya generasi muda lebih suka bermain di ranah politik kekuasaan, daripada mengembangkan politik kekaryaan, politik kesejahteraan, dan life skill. Kalau di bidang ekonomi lebih suka bergerombol menjadi pemborong, daripada berusaha di sektor rill, serta pengembangan ekonomi kreatif.

Maka acara Expo Bioma ini, dinilainya, merupakan suatu respon yang cerdas dan tepat untuk menjawab pelbagai tantangan tersebut. Untuk itu, wahai anak-anakku, teruslah belajar dan teruslah berkarya. Karena dengan terus belajar dan berkarya sesungguhnya engkau sedang merancang masa depanmu.

Assagaff mengutip pesan filosof China kuno Lao Tze yang pernah berkata, “Perhatikan pikiranmu, karena pemikiran akan berkembang menjadi kata-kata. Perhatikan kata-katamu, karena kata-kata akan berkembang menjadi perilaku Perhatikan perilakumu, karena perilaku akan berkembang menjadi kebiasaan.

“Lao Tze juga katakan, Perhatikan kebiasaanmu, karena kebiasaan akan berubah menjadi karakter. Perhatikan karaktermu, karena karakter dapat menentukan nasibmu,” demikian Assagaff.(SMH)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top