MALUKU

Dihantui Tsunami, Warga Jazirah Leihitu Masih Tidur di Hutan

Warga Desa Seith, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, masih memilih tidur di tengah hutan pascagempa bumi mengguncnag Pulau Ambon, Selasa 31 Oktober lalu

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Gempa beruntun yang mengguncnag kota Ambon dan sekitarnya telah berlalu sejak lima hari yang lalu. Namun hingga kini warga sejumlah desa pesisir di Kecamatan Leihitu, dan Leihitu Barat di Kabupaten Maluku Tengah hingga kini masih memilih tidur di kawasan perbukitan di hutan-hutan desa mereka.

Warga memilih tidur di hutan-hutan dengan berlasakan terpal di dalam tenda darurat yang mereka dirikan sejak gempa mengguncang pulau Ambon pada 31 Oktober 2017lalu. Mereka baru akan kembali ke perkampungan setelah pagi tiba.

Umumnya warga yang memilih mengungsi ke hutan saat malam hari tiba itu adalah para lansia, perempuan anak-anak hingga bayi. Warga memilih mengungsi ke hutan karena mereka mengaku trauma dan merasa khawatir dengan bencana tsunami.

“Kita takut tsunami jadi terpaksa tidur disini, nanti pagi hari baru pulang ke kampung,”kata warga Setih, Idrus Hatuina kepada wartawan di lokasi pengungsian di kawasan perbukitan Ulat Oki, Sabtu malam (4/11/2017).

Warga Desa Seith yang mengungsi secara berkelompok setiap malam ke hutan diperkirakan mencapai 500 orang. Mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kampungnya menuju perbukitan Ulat Oki yang ada di belakang perkampungan itu. Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke lokasi lain.

Asma Haupea salah seornag warga lainnya mengaku dia dan keluarganya ikut mengungsi ke hutan karena mereka tidak merasa nyaman bermalam di perkampungan. Meski saat ini intensitas gempasusulan telah menurun namun mereka masih takut tejradi tsunami.

“Kita sudah dapat informasi dari BMKG bahwa tidak ada potensi tsunami, pemerintah desa juga telah memberikan pengumuman tapi kita merasa tidak nyaman saat tidur malam hari di rumah, kita masih takut jangan-jangan ada tsunami,”ungkapnya.

Selain warga di desa Seith, warga desa lainnya yang ikut mengungsi ke hutan saat malam hari yakni warga Desa Asilulum warga Negeri Lima, Hila, Wakasihu, Ureng dan Larike, dan Desa Alang serta Liliboy.

“Hampir semua warga pesisir di Leihitu dan Leihitu Barat sampai saat ini masih mengungsi di hutan saat malam hari. Memanga da cerita turun temurun di masyarakat Leihitu soal tsunami ratusan tahun lalu, mungkin itu menjadi salah satu penyebab saat setiap kali gempa sellau memilih mengungsi,”ungkap Sardi Kapitanhitu salah tokoh pemuda Kecamatan Leihitu.

Dia meminta pihak terkait dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Maluku Tengah maupun BPBD Provinsi Maluku dapat meninjau lokasi pengungsian warga dan memberikan pemahaman kepada mereka yanga dad is ejumlah desa tersebut.

“Kami berharap BPBD dapat meninjau kampong-kampung di Leihitu dan memeberikan pemahaman kepada masyarakat,”harapnya.

Terkait masalah itu, Kepala BPBD Maluku, Farida Salampessy berjanji pihaknya bersama BMKG Stasiun Ambon akan mendatangi di desa-desa tersebut untuk memberikan sosialsiasi dan pencerahan agar warga tidak lagi mengungsi.

“BPBD provinsi dan BMKG akan melaksanakan sosialisasi ke Kecamatan Leihitu dan Leihitu Barat dalam waktu dekat,”ungkapnya melalui pesan WhatsApp,”akunya. (SMG)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top