GAYA HIDUP

Komunitas Beta Film Ajari Siswa SMAN 1 Leihitu Buat Film

siswa SMA Negeri 1 Leihitu mengikuti workshop tentang film, Sabtu (25/3/2017)

 

AMBON,SERAMBIMALUKU.com- Memperingati Hari Film Nasional (HFN) 30 Maret mendatang, pusat pengembangan (Pusbang) film kementerian pendidikan dan kebudayaan bersama komunitas Beta Films menggelar workshop tentag film di Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri 1 Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah ( Malteng), Sabtu (25/03/2017).

Sutradara Film Baju Bola dari komunitas Beta Film, Piet Manuputty mengatakan, kegiatan tersebut merupakan yang pertama kali digelar Pusbang Film Kemendikbud dengan merangkaul 10 komunitas Film dari daerah-daerah di indonesia untuk menggelar pemutaran dan workshop film. “Ini tahun pertama Pusbang Film melibatkan 10 komunitas film di daerah untuk memperingati HFN, salah satunya adalah Komunitas Beta Films,” katanya kepada Serambi Maluku.com.

Menurut Piet, kegiatan tersebutbertujuan untuk memasyarakatkan film kepada semua kalangan, terutama kalangan muda di Maluku. Pasalnya, menurut Piet, tingkat apresiasi film di Indonesia khususnya di Maluku masih sangat rendah.

“Mayoritas masyarakat Indonesia suka nonton film, namun hanya sedikit saja yang mau terlibat dalam pembuatan film,” kata Piet.

Melalui kegiatan itu dia berharap para siswa dapat menumbuhkan rasa ingin tahu untuk berkarya nyata melalui film. “Melalui kegiatan ini, kami harap tumbuh ruang-ruang diskusi film yang mampu menghasilakan karya nyata,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu para peserta menerima materi perfilman seperti Sinematografi, penyutradaraa, Editing video dan penulisan naskah oleh Komunitas Liga Film Mahasiswa Obscura Alhazen IAIN Ambon.

Sejarah Hari Film Nasional

Sebenarnya industri film nasional sudah ada sejak 1926, dan terus berkembang sampai 1942 meskipun kalah bersaing dengan film-film asing. Pada saat itu, para pemilik perusahaan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda.

Film nasional pertama berjudul “Loetong Kasaroeng” hadir pada tahun 1986, ini merupakan sebuah film bisu yang disutradarai oleh dua orang berkebangsaan Belanda, G. Krugers dan L. Heuveldorf. Film ini dibuat di Bandung dan para pemiannya orang-orang pribumi yang merupakan anak-anak dari bupati Bandung Wiranata Kusuma II.

Setelah berbagai film dibuat oleh sutradara dan perusahaan asing, akhirnya pada 30 Maret 1950 dilakukan syuting perdana film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai dan diproduksi oleh orang asli Indonesia yakni Usmar Ismail melalui Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Film ini bercerita tentang seorang komando tentara yang terlibat cinta lokasi dengan seorang pengungsi wanita Indo-Belanda dalam sebuah perjalanan pengungsian.

Karena ini merupakan film pertama yang mencirikan Indonesia, maka tanggal 30 Maret yang merupakan hari pertama syuting film ini dijadikan sebagai hari lahirnya film nasional. Pengambilan keputusan tersebut diambil pada 11 Oktober 1962 oleh Dewan Film Nasional yang melakukan konferensi dengan organisasi perfilman.

Memasuki tahun 1980an perfilman Indonesia bisa dibilang mencapai era keemasannya. Karena film Indonesia mampu menjadi raja di negeri sendiri. Namun memasuki akhir tahun 1990an, film Indonesia seperti terjun bebas. Bioskop-bioskop yang ada di kota besar selalu dipenuhi oleh film produksi Hollywood. Selain itu maraknya sinteron yang tayang di televisi nasioanal juga menurunkan tingkat kunjungan ke bioskop (UCU)

 

Click to comment

BERITA POPULER

To Top