Warga Tolak Rencana Pembangunan Bandara di Banda, Ini Alasannya

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Rencana pembangnan bandara baru di Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah menuai protes dari warga di Desa Tanah Rata. Protes dilayangkan warga, sebab lokasi pembangunan bandara berada diatas tanah warga setempat.

La Acang, salah satu tokoh pemuda Desa Tanah Rata mengaku, warga menolak rencana pembangunan bandara baru tersebut lantaran mereka khawatir pembangunan bandara itu akan menggusur keberadaan warga di desa tersebut.

“Apalagi, sesuai gambar yang beredar, ranway bandara mengambil sebagaian besar perkampungan dan sepanjang pesisir pantai hingga lebih dari 1 kilometer,”kata Acang kepada waratwan, Senin (25/9/2017).

Menurut dia jika gambar lokasi bandara baru yang melintas sepanjang pesisir pantai Desa Kampung Baru benar sebagai lokasi pembangunan bandara maka itu akan mengancam keberadaan warga.

“Jika seperti itu, artinya perkampungan kami dirampas, mata pencaharian kami dihilangkan. Kami disini hidup dari berkembun dan melaut. Jika benar pembangunan bandara seperti yang terlihat di gambar, artinya pemerintah sudah mengambil desa dan sumber hidup kami,” keluhnya.

Dia membeberkan, warga Desa Tanah Rata mulai merasa khawatir setelah petugas berwenang melakukan pengukuran lahan untuk lokasi bandara. Apalagi tidak pernah ada pemberitahuan atau sosialisasi dari pemerintah setempat soal rencana itu. Tiba-tiba saja tim sudah menanam patok di titik-titik koordinat yang terpakai untuk jalur bandara.

Menurutnya setelah pengukuran itu, warga baru sadar kalau akan ada rencana pembangunan bandara, itupun dari media sosial. Warga makin cemas karena dari foto-foto yang beredar lokasi bandara melintas tepat di perkampungan.

“Belum ada informasi resmi dari pemerintah. Meski sebelumnya pernah ada pertemuan dengan pihak bandara setelah warga meminta tim pengukuran untuk menghentikan aktifitas. Namun itu tidak mengakomodir tuntutan warga,” ujarnya.

Selain mengancam keberadaan warga, penolakan terhadap pembangunan bandara baru itu juga terkait masalah lingkungan. Warga beralasan jika bandara itu tetap dipaksakan untuk dibangun maka akan berdampak pada rusaknya terumbu karang yang menjadi tempat memancing nelayan tradisional.

Warga pun meminta Gubernur Maluku mengevaluasi kembali lokasi pembangunan bandara. Karena, lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan bandara adalah wilayah potensial hidupnya terumbu karang.
“Di sempanjang perairan Desa Tanah Rata dan Kampung Baru adalah tempat nelayan tradisional mencari ikan, jadi kami meminta gubernur untuk melakukan evaluasuasi kembali atas lokasi itu,” ujar La Acang.

Sementara itu, Gubernur Maluku, Said Assagaff yang dikonfirmasi terkait pembangunan bandara tersebut membantah jika lokasi bandara melintas di perkampungan warga.

Assagaff juga menegaskan jika tim Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah melakukan survei dilokasi tersebut. Hasilnya, tidak menemukan adanya terumbu karang yang hidup. “ Tidak ada yang kena (perkampungan), itu kan di laut. Tanya orang yang bersangkutan, itu ditimbun di laut dan tidak ada terumbu karang yang hidup di situ. Jika ada warga yang ingin protes nanti bertemu dengan saya,” tegas Assagaff. (SMG)

To Top