MALUKU

Derita Warga Wamsait, Rela Beli Air Bertahun-tahun Karena Takut Terpapar Sianida

NAMLEA,SERAMBIMALUKU.com-Keberadaan lokasi tambang Gunung Botak di Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Wailata, Kabupaten Buru tidak hanya mendatangkan berkah, namun juga mendatangkan bencana bagi warga setempat.

Sejak beroperasinya tambang emas illegal itu, perlahan tapi pasti mulai terlihat dampak kerusakan yang kini dirasakan warga.

Kekhawatiran warga semakin menjadi, setelah para penambang nekat menggunakan zat berbahaya seperti sianida dan mercuri untuk mendapatkan emas di kawasan itu.

Kini penggunaan zat berbahaya itu mulai memakan korban, banyak hewan ternak warga yang mati mendadak karena terpapar zat sianida. Tanaman warga yang berada tak jauh dari lokasi pengolahan emas, juga mulai mengering dan mati.

Berbagai dampak tersebut, membuat warga kini semakin khawatir, apalagi aktivitas penambangan illegal dengan menggunakan sianida dan mercuri masih terus berlangsung di kawasan Gunung Botak.

Sejumlah ahli pun telah melakukan penelitian dan hasilnya, lingkungan di kawasan Gunung Botak kini megalami keruskaan yang snagat parah.

Para ahli bahkan mengemukakan jika dampakdari ancaman keruskaan lingkungan di Gunung Botak jauh lebih parah dengan yang terjadi di Minamata, Jepang.

Akibat penggunaan zat berbahaya itu, warga harus menanggung semuanya. Bayangkan saja, dalam beberapa tahun terakhir, sejak penggunaan mercuri dan sianida mulai ramai digunakan penambang di Gunung Botakm warga di Dusun Wamsait tidak lagi mengkonsumsi air sumur di rumah-rumah mereka.

Warga tidak lagi mengkonsumsi sumber air di perkampungan mereka itu karena takut terpapar sianida yang digunakan para penambang di lokasi pengolahan emas ilegal. Tak hanya air, warga di desa tersebut juga tidak lagi mengkonsumsi ikan dan sayur-mayur karena khawatir terkena racun sianida.

Sutikno salah seorang tokoh masyarakat Desa Dava saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (16/3/2018) di Dusun Wamsait mengaku dia dan warga dusun tersebut sejak tiga tahun terakhir tidak lagi mengkonsumsi air sumur dan lebih memilih membeli air mineral untuk kebutuhan minum.

“Sudah tiga tahun terakhir pak. Kami tidak lagi meminum air sumur karena kmai takut terkena racun sianida,”kata Sutikno.

Mantan Kepala Dusun Wamsait ini mengaku dusun Wamsait didiami oleh hampir 350 kepala keluarga dan hamper setiap rumah memiliki sumur yang dimanfaatkan untuk sumber air minum. Namun sejak lokasi tambang illegal di kawasan Gunung Botak mulai ramai beroperasi, sumur-sumur warga tidak lagi bisa dimanfaatkan.

“Sejak penambang berdatangan dan aktivitas penambangan dengan menggunakan sianida mulai marak kita tidak lagi mengkonsumsi air sumur, termasuk juga mengkonsumsi sayur-sayuran di desa ini,”paparnya.

Setiap hari kata Sutikno keluarganya harus membeli tiga galon air mineral untuk kepentingan minum dan memasak. Sementara air sumur yanga da di rumahnya hanya digunakan untuk keperluan mencuci dan mandi.

“Kalau saya setiap hari itu beli tiga galon air, harganya Rp 5.000 per gallon, kalau air sumur itu hanya untuk mencuci. Semua warga disini begitu,”ujarnya.

Senada dengan Sutikno, warga lainnya, Nurozi mengaku keluarganya juga tidak lagi mengkonsumsi air sumur di rumahnya karena takut terkena racun sianida,”Kalau untuk minum kita tidak lagi minum air sumur, kita beli air mineral,”kata dia.

Nurozi menuturkan, warga di dusun itu semakin khawatir lantaran dalam beberapa pekan terakhir, hewan ternak di dusun tersebut terus mati mendadak setelah meminum air bekas limbah di sekitar lokasi pengolahan emas ilegal. (SMJ)

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top