KRIMINAL

IJTI Maluku Desak Polisi Periksa ASN yang Intimidasi Waratwan

Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Maluku, Juhri Samaneri menerima pataka dari pengurus IJTI pusat

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Maluku mendesak aparat kepolisian segera mengusut tuntas insiden kekerasan dan aksi intimidasi terhadap sejumlah jurnalis di rumah kopi Lela di Jalan Sam Ratulangi Ambon yang terjadi pada Kamis (29/3/2018) kemarin.

Aksi intimidasi dan tindakan kekerasan yang menimpa sejumlah waratwan itu diduga dilakukan calon gubernur Maluku, Said Assagaff dan sejumlah tim suksesnya setelah seorang waratwan Harian Rakyat Maluku menecoba mendokumentasikan gambar Said Assagaff yang ketika itu sednag ngopi dan ngobrol bersama sejumlah pimpinan SKPD Pemerintah Provinsi Maluku.

“Siapapun yang menghalang-halangi dan melakukan ancaman serta tidak kekerasan terhadap jurnalis saat menjalankan tugasnya merupakan bentuk pelanggaran hukum pidana, sebagaimana tertuang dalam Pasal 18 UU Pers,”kata Ketua IJTI Maluku, Juhri Samanery melalui rilisnya yang diterima Serambi Maluku.com, Jumat (30/3/2018).

Dia mengungkapkan, tugas jurnalis dilindungi oleh undang-undang, dan dalam pasal 18 undnag-Undang Pers telah dijelaskan bahwa  setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta.

Pers dan jurnalis kata Samanery merupakan salah satu elemen penting dalam kemajuan proses demokrasi di Tanah Air. Karena kemerdekaan pers selain sebagai alat kontrol sosial juga menjadi sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi guna memenuhi kebutuhan hakiki demi terwujudkan kehidupan yang lebih baik.

“Kami sangat menyayangkan insiden ini dan kami meminta agar kasus ini segera diproses hingga tuntas,”katanya.

Dia menjelaskan, untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik memperoleh informasi yang benar, tugas dan kerja jurnalistik dilindungi oleh undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Pasal 8 yang menyebutkan wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya.

Menurutnya atas insiden yang terjadi itu pihaknya  menyerukan kepada semua pihak untuk dapat menghormati dan tidak menghalang-halangi tugas para jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya di lapangan.

“Intimidasi terhadap dua jurnalis di Ambon oleh oknum ASN dan juga Tim sukses pasangan Cagub Said Assagaf di Salah satu warung kopi,  membuktikan adanya kurangnya akses informasi dari para ASN terkait tugas jurnalis,”katanya.

Dia menambahkan terkait kasus tersebut IJTI Maluku meminta kepada polisi agar segera memanggil pihak-pihak yang diduga telah mengintimidasi dan menghalangi tugas jurnalis.”IJTI  MALUKU juga meminta semua pihak untuk sungguh-sungguh menjaga, melindungi, dan menjamin keamanan para jurnalis saat menjalankan tugasnya,”pintanya.

Selanjutnya Samanery  mengajak masyarakat hendaknya memahami bahwa jurnalis dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh undang-undnag. Sehingga, ketidakpuasan terhadap pemberitaan media hendaknya disampaikan melalui jalur resmi yakni Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

“Jurnalis dalam menjalankan tugasnya wajib berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik. Setiap juga jurnalis harus menggunakan narasumber yang kredibel sehingga bisa menyejukkan dan tidak provokatif,” katanya.

Dia juga  mengatakan media harus menjadi penerang di tengah banyaknya informasi yang tidak terkontrol dan cenderung menyesatkan yang beredar di media sosial. Karena itu, tambahnya, setiap produk pers harus mencerminkan kode etik, bertanggung jawab dan sesuai dengan perundangan yang berlaku” tutupnya. (SMJ).

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top