AMBOINA

Komunitas Sastra di Ambon Ikut Kecam Insiden Rumah Kopi Lela

Sejumlah komunitas sastrawan di Ambon menggelar aksi solidaritaa untuk mendukung dua wartawan yang menjadi korban kekerasan dan intimidasi salah satu calon gubernur Maluku, aksi itu berlangsung di Pattimura Park, Minggu malam (1/4/2018).

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Kecaman terhadap aksi kekerasan dan tindakan intimidasi terhadap dua jurnalis di Kota Ambon tidak hanya datang dari organisasi pers.

Sejumlah komunitas sastra di Kota Ambon juga ikut menyampaikan protes dan kecaman atas insiden yang terjadi di Rumah Kopi Lela itu.

Berbagai komunitas sastra yang ikut menggalang solidaritas bagi dua waratwan yang menjadi korban kekerasan dan intimidasi itu antara lain, Komunitas Sastra Phanasa, Komunitas Sastra Ilalang, Komunitas Watak Kita IAIN Ambon, Komunitas Rumah Kita Hila, dan Komunitas Kopi Wakal.

Komunitas sastrawan ini menggelar aksinya itu di kawasan Pattimura Park pada Minggu (1/4/2018) malam sekira pukul 21.40 WIT.

Dalam aksinya, mereka ikut membawa sejumlah famplet berisi dukungan terhadap perjuangan kebebsan pers serta kecaman terhadap insiden yang menimpa waratwan Abdul Karim Angkotasan dan Sam Usman Hatuina.

Menurut Koordinator aksi, Randi Tohiyano pihaknya menggelar aksi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap kebebasan pers di Maluku sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap dua waratwan yang menjadi korban kekerasan dan intimidasi yang diduga dilakukan calon gubernur Maluku, Said Assagaff dan sejumlah tim suksesnya.

“Bagi kami sebagai pilar keempat demokrasi maka Pers memiliki peran sangat penting dalam menegakkan demokrasi dan mewujdukan pembangunan karenanya segala upaya untuk menghalang-halangi kebebasan pers harus dapat dilawan,”ungkap Randi.

Dalam orasinya itu, para sastrawan ini ikut mengutuk keras aksi penganiayaan dan intimidasi terhadap kedua jurnalis tersebut.

Mereka menuntut agar Polda Maluku segera menindaklanjuti kasus tersebut hingga tuntas, karena insiden yang terjadi itu telah mencederai kebebsan pers sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 40 tentang pers.
Para sastrawan ini juga meminta Kapolda Maluku, Brigjen Andap Budhi Revianto dapat melindungi kedua korban selama proses hukum berlangsung.

“Kami minta agar kasus ini segera ditindaklanjuti. Kami juga meminta Kaplda Maluku dapat melindungi kedua korban selama proses hukum berlangsung,”pinta para sastrawan itu.

Insiden kekerasan terhadap dua jurnalis di Ambon hanya mendapat sorotan dari organisasi pers di Kota Ambon namun juga organisasi pers dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka ikut mengecam aksi yang dilakukan calon kepala daerah itu dan meminta polisi segera mengusutnya secara tuntas.

Selain berorasi, para sastrawan ini juga membacakan sejumlah puisi tentang kebebasan pers. (SMH)

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top