AMBOINA

Licik Bahasa Dalam Diksi Assagaff

Rudi Fofid
loading...

Catatan analisis Rudi Fofid-Ambon

Menghalang-halangi kegiatan jurnalistik sehingga kegiatan tersebut tidak terlaksana  secara sempurna adalah kejahatan terhadap profesi jurnalistik. Kemerdekaan pers  telah dikekang.  Naluri jurnalis Sam Hatuina yang hendak memotret aktivitas  kumpul-kumpul aparat sipil negara (ASN) dengan kandidat gubernur Said Assagaff  (yang patut diduga ASN-ASN itu melanggar asas netralitas), dihalangi oleh pejabat  PNS dan diperintahkan oleh Said Assagaff, adalah pelanggaran utama.  Di  situlah  letak Kasus pidananya.

Secara lex spesialist, kasus ini adalah kasus jurnalistik yang merujuk pada UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Pasal 4 ayat (1) UU Pers menyebutkan, kebebasan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.  Pasal 4 ayat (3) menegaskan,  untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh,  dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Jurnalis Sam Hatuina sedang melaksanakan hak kebebasan pers nasional tersebut. Siapa menghalangi Sam Hatuina dengan kata-kata atau tindakan fisik, dia melanggar  hak kebebasan tersebut. Pejabat ANS  Husein Marasabessy memaksa jurnalis Sam Hatuina  berhenti memotret, dan kandidat gubernur Said Assagaff mengeluarkan perintah  mengambil kamera handphone adalah bentuk konkrit pelanggaran kebebasan tersebut.

UU Pers Bab VIII tentang Ketentuan Pidana, pada Pasal 18 Ayat (1) menyatakan,  setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Ini sangat jelas dan  terang benderang.

Baca Juga:Intimidasi Waratwan, Said Assagaff Dilaporkan ke Polisi

DIKSI “KLARIFIKASI” DAN “PRIHATIN”

Surat klarifikasi dan pernyataan keprihatinan Said Assagaff melalui kuasa hukumnya  Fahri Bachmid, Sabtu (31/3), sungguh tendensius. Perihal surat ini menggunakan  pilihan kata “klarifikasi” dan kata “prihatin”.

Istilah klarifikasi bermakna  penjernihan, penjelasan, dan pengembalian kepada apa  yang sebenarnya.  Jadi apa yang SEBENARNYA (BENAR) ada pada Said Assagaff, bukan  pada jurnalis Sam Hatuina.  Ini adalah bentuk invers. Pelaku Marasabessy dan  Assagaff bertukar posisi dengan korban Sam Hatuina, akibat apa yang disebut dalam surat klarifikasi itu sebagai salah paham.  Siapa SALAH (paham)? Ya, jurnalis Sam  Hatuina salah paham sampai melapor ke polisi.  Jadi Said Assagaff sebagai YANG  BENAR, memberikan penjernihan, penjelasan, dan pengembalian kepada apa yang sebenarnya, sebab jurnalis SALAH paham.  Ini nama bukan cerdik melainkan licik  memainkan bahasa bunga untuk bertukar posisi berdiri di dalam perkara pidana ini.

Baca Juga:IJTI Maluku Desak Polisi Periksa ASN yang Intimidasi Waratwan

Diksi “prihatin” juga unik dan sungguh luar biasa.  Prihatin bermakna bersedih hati, was-was, bimbang (karena usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan  nasibnya, dan sebagainya). Keprihatinan itu ditujukan kepada Ketua AJI Kota Ambon.  Artinya, dengan diksi ini, Said Assagaff mau menyatakan, dirinya sebagai orang yang  berdiri di luar kasus, tidak menjadi bagian dari perkara pidana ini. Ini juga  sungguh bukan cerdik melainkan licik bahasa.

“Bahwa peristiwa tersebut  secara pribadi maupun sikap  adalah  diluar kendali  serta kehendak Calon Gubernur Maluku Bapak  Said Assagaff yang secara  kebetulan  sedang beristirahat sambil menikmati minum kopi di tempat itu, beliau juga secara  pribadi maupun sebagai calon Gubernur Maluku sangat menyayangkan serta menyampaikan  rasa keperihatinan yang sangat mendalam atas peristiwa tersebut,” kata Fahri kepada  Teras Maluku.

Baca Juga:Said Assagaff Beri Klarifikasi Soal Insiden Rumah Kopi Lela Tanpa Kata Maaf

Saya belum membaca surat asli Assagaff melalui Fahri namun jika membaca seluruh isi  berita Teras Maluku pada link https://terasmaluku.com/lewat-kuasa-hukumnya-assagaff-sampaikan-klarifikasi-dan-pernyataan-keprihatinan-kepada-aji-ambon/, maka  tidak ditemukakan kata “maaf”.

Andai ada kata “maaf”, saya akan memperbaiki susunan kalimat pada bagian ini.  Akan  tetapi jika benar Assagaff tidak mengucapkan kata “maaf”, semua ini karena sudah

sejak awal, secara licik bahasa memakai diksi “klarifikasi” dan “prihatin”  adalah  demi menegaskan posisi berdiri “tidak offside, atau tidak handsball, tidak  bersalah”.  Jadi tidak perlu minta maaf, karena berada pada posisi benar.  Artinya,  laporan wartawan ke polisi, hanyalah balon-balon sabun yang akan meledak berderai-derai. Wao, sebuah rekayasa yang indah. Ini getir, seperti Pilatus yang mencuci tangan demi bersih-bersih diri.

Tulisan berjudul ‘Licik Bahasa Dalam Diksi Assagaff’ ini diambil dari postingan Rudi Fofid  di akun facebooknya Rudi Fofid pada Minggu, 1 Maret 2018. (SMJ)

 

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top