MALUKU

Mercuri Bebas Masuk ke Gunung Botak, Warga Kayeli Mengadu ke Ombudsman

Warga adat Kayeli Kabupaten Buru mengadu ke pihak Ombudsman RI Perwakilan Maluku saat pertemuan di Namlea, Rabu malam (18/4/2018)

NAMLEA,SERAMBIMALUKU.com-Maraknya peredaran mercuri di Gunung Botak sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Sejak para penambang illegal menggunakan sistem rendaman dan tong untuk mengeruk emas di Gunung Botak, saat itulah mercuri mulai bebas masuk di kawasan tersebut.

Ironisnya meski keberadaan mercuri di kawasan tambang telah merusak lingkungan dan mengancam keselamatan warga di Pulau Buru, namun hingga saat ini pihak berwenang belum juga dapat mengungkap siapa aktor yang memasok zat kimia berbahaya itu ke Gunung Botak.

Warga adat Pulau Buru yang menolak keras keberadaan aktifitas tambang illegal serta peredaran mercuri di kawasan Gunung Botak telah berulang kali menyampaikan persoalan yang terjadi kepada pemerintah provinsi Maluku, kementian terkait hingga aparat TNI Polri, tapi masalah tersebut masih sulit untuk diatasi.

Warga yang semakin khawatir dengan persoalan itu lantas mengadukan masalah tersebut ke pihak Ombudsman RI Perwakilan Maluku. Aduan itu disampaikan warga adat Kayeli saat bertatap muka dengan tiga perwakilan Ombudsman yang melakukan kunjungan kerja ke Namlea Rabu, (18/4/2018).

Dalam pertemuan itu, warga meminta pihak Ombudsman dapat mendorong pihak berwenang untuk segera mengantasi maraknya peredaran mercuri di Gunung Botak serta menutup kawasan tersebut dari aktivitas penambangan liar.

Menurut warga aktivitas penambangan liar di Gunung Botak tidak hanya merusak lingkungan namun juga telah mengancam keselamatan warga di Pulau Buru. Warga semakin khawatir karena beberapa kali sejumlah hewan ternak milik warga mati secara mendadak karena diduga meminum air limbah mercuri.

“Kami berharap pihak Ombudsman bisa melihat masalah ini,”kata salah satu tokoh adat Kayeli, Hata Belen saat pertemuan itu.

Raja Kayeli, Adbullah Wael membeberkan, kawasan Gunung Botak saat ini sudah semakin memprihatinkan karena para penambang liar masih saja melakukan aktivitasnya di kawasan itu tanpa mempedulikan masalah lingkungan dan keselamatan warga.

“Di Gunung Botak ada sekitar 200 bak rendaman yang menggunakan mercuri dan hal ini sangat mengancam kita warga Kayeli,”kata Abdullah Wael.

Dia menuturkan sejauh ini peredaran mercuri di Gunung Botak tidak mampu diatasi aparat berwenang. Dia juga menyalahkan pemerintah daerah dan oknum aparat yang terkesan melakukan pembiaran terhadap peredaran zat berbahaya tersebut di Gunung Botak.

“Kalau tidak dibacking bagaimana mungkin sianida dan mercuri bisa masuk di Gunung Botak dengan begitu bebasnya. Saya ikut menyalahkan pemerintah daerah atas masalah ini,”tegasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kajian Pengawasan Penggunaan Mercuri dan Dampak Keruskaan Lingkungan di Gunung Botak, Semy Hatulesy mengaku setelah mendengarkan aduan dari masyarakat, pihaknya selanjutnya akan mengkaji berbagai masukan itu untuk ditindaklanjuti.

“Masukan dari saudara-saudara sekalian akan kita kaji untuk disampaikan kepada pihak berkompeten, tapi kami juga butuh data dari bapak-bapak sekalian misalnya siapa oknum yang membacking itu harus disampaikan, siapa yang menyalurkan, dari mana? Itu datanya harus disampaikan,”ungkapnya.

Dia mengakui, pihaknya telah turun langsung di lapangan dan menemui ada hal yang tidak beres yang tejradi di Gunung Botak, salah satunya soal adanya peredaran mrcuri di kawasan tersebut. Masalah itu kata dia akan menjadi kajian tim untuk ditindaklanjuti.

“Ornag gunakan mercuri di rumah sakit saja harus ada izin resminya, apalagi di wilayah tambang yang berhubungan langsung dengan keselamatan banyak orang,”ujarnya.

Dia pun meminta warga agar dapat menyampaikan laporan tertulis dan data yang dimiliki kepada Onbudsman agar dapat menjadi pegangan.

“Nanti mungkin bisa dibikin dalam laporan tertulis saja, nanti disitu dibeberkan juga fakta yang ada, agar bisa lebih baik,”katanya (SMJ)

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top