OPINI

Pendidikan Membangun Masa Depan di Era Milienial

Nardi Maruapey

Oleh: Nardi Maruapey

(Pengurus HMI Cabang Ambon)

Dalam narasi-narasi sejarah masa lalu tentu ada sebuah penggerak dari proses perjalanan “sejarah” itu. Siapa penggeraknya? Tentu “manusia” jawabannya. Manusia mempunyai peranan penting dan sangat vital terhadap keberlangsungan sejarah dari masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Namun apakah penting dan memiliki arti sejarah itu, dengan tegas ada seorang filsuf namanya Karl Popper, dia mengatakan tidak. “Sejarah tidak punya arti,” ungkap Popper.

Alasannya? Karena, menurutnya, fakta masa lalu sebagai fakta masa lalu-tidak pernah memiliki arti pada dirinya sendiri, khususnya bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Fakta itu baru memiliki arti bagi kita kalau kita memutuskan untuk memberinya arti. (Baskara T. Wardaya, 2008: 9) Jadi, sejarah itu akan terlihat penting dan memiliki arti tergantung cara pandang kita melihat sejarah itu. Bertolak dari arti atau makna yang kita berikan itulah kita belajar dari fakta masa lalu itu untuk hidup kita di masa kini dan selanjutnya. (Baskara T. Wardaya, 2008: 9).

Sengaja saya mulai tulisan kecil ini dari sejarah karena hemat saya semua bangsa pasti mempunyai cerita sejarah dari generasi ke generasi. Begitupun juga dengan bangsa ini. Tapi bukan cerita masa lalu generasinya, yang lebih dititik beratkan adalah bagaimana membangun masa depan generasi saat ini untuk masa mendatang. Berangkat dari situlah tulisan ini saya buat.

Secara umum, berbicara mengenai generasi dari zaman ke zaman, masa ke masa tentu kita akan temukan hanya ada dua kelompok generasi yakni generasi muda yang diwakili oleh kaum muda dan generasi tua yang diwakili oleh kaum tua.

Kedua generasi yang selalu ada ini mempunyai kekuatan (power) tersendiri dimana bagi saya generasi muda kelebihannya adalah semangat kepemudaannya yang masih sangat kental, kegelisahannya terhadap sesuatu masih sangat kuat, sedangkan generasi tua adalah generasi yang sudah pasti telah memiliki banyak pengalam hidup, asam garamnya kehidupan sudah banyak dirasakan. Sehingga dari kedua pihak ini tiada kata lain yang harus dilakukan selain saling memberi dan menerima atau istilah kerennya harus ada proses transfer pengetahuan, jadi harus ada komunikasi yang terbangun antar generasi.

Starting point

Semua orang tentu punya rencana (plening) ke depan untuk mencapai kesuksesannya, begitupun dengan seluruh generasi anak bangsa. Lalu kita harus memulai dari mana? Jalan apa yang harus ditempuh oleh seluruh generasi saat ini dan generasi masa mendatang? Dalam menjawab masa depannya kelak.

Dengan tegas saya katakan melalui “pendidikan”, pendidikan dalam bentuk yang sangat umum, mulai dari mendidik pola pikir, pola tingkah, dan pola laku kita selaku generasi bangsa. Walaupun saya masih percaya bahwa ada banyak cara yang mesti dilakukan selain hanya dengan pendidikan karena banyak jalan menuju roma, begitulah kira-kira.

Disisi yang lain, pendidikan harus menjadi sebuah infestasi utama kita dalam melakukan agenda-agenda perubahan terhadap generasi ke generasi. Berbicara tentang proses pendidikan sudah tentu tak dapat dipisahkan dengan semua upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, sedangkan manusia yang berkualitas itu, dilihat dari segi pendidikan. (Oemar Hamalik, 2009: 1).

Pendidikan juga merupakan salah satu jalan untuk menuntut ilmu, Nabi Saw bersabda, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi Muslim laki-laki maupun perempuan”. (Murtadha Muthahhari, 2013: xiv). Selain itu terdapat juga hadis beliau, “Di mana pun kamu menemukan serpihan pengetahuan, ambillah ia. Tidak masalah apabila kamu mengambilnya dari seorang kafir atau munafik”. (Muthahhari, 2015: 164).

Lalu apa itu pendidikan? “Pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan seseorang, bangsa dan negara”. Sebagaiman tujuan pendidikan nasional itu sendiri yakni untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dilihat dari jenisnya juga, pendidikan terbagi menjadi dua, formal dan non formal. Pendidikan formal adalah yang berjalan secara resmi, mempunya fasilitas seperti sekolah, ada guru dan murid, dll. Dan Negara sudah mempunyai semua itu. Hal bagi saya adalah kemajuan dan kebaikan tersendiri karena penerus generasi ke depan sudah memiliki akses yang gampang untuk bersekolah dan menikmati pendidikan secara formal dengan efektif.

Tapi kalau dilihat pendidikan secara subtantif maka mohon maaf, pendidikan itu tidak terbatas pada ruang-ruang yang sifatnya formalitas saja, harus ada sekolah, ruang belajar dan lain sebagainya. Kenapa? Karena semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru, inilah makna pendidikan yang sesungguhnya.

Oleh sebab itulah semua orang wajib dan berhak mendapat dan bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan. Mulai dari generasi A ke generasi B, C dan selanjutnya tanpa ada hentinya.

Membangun Kecerdasan

Menilik apa yang menjadi kunci kecerdasan manusia, dimana kecerdasan manusia itu harus melingkupi kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Begitu juga pada ranah pendidikan yang diketahui hanya ada tiga bentuk pemantapan yang bisa didapatkan.

Pertama, pemantapan kecerdasan intelektual, dalam hal ini yang mantapkan adalah cara berpikir atau ada peningkatan kapasitas pengetahuan seseorang. Berpikirnya rasional, ilmiah, objektif, sistematis dan lain sebagainya. Caranya adalah generasi muda harus lebih intens dalam membaca, berdiskusi, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya demi meningkatkan pengetahuannya.

William C. Chittik menyatakan bahwa tujuan akhir agama dan seluruh upaya manusia adalah mengembangkan intelek. Kedua, membentuk kecerdasan emosional dan spritual. Dengan tujuan pembentukan sikap, etika, dan karakter kita.

Hal ini bisa dilakukan dengan memperdalam pengetahuan-pengetahuan keagamaan. Seorang Pramoedya Anantatoer pernah bilang bahwa seorang terpelajar haruslah cerdas dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak (Lihat Bumi Manusia karya Pramoedya Anantatoer). Hal-hal ini harusnya diprioritaskan untuk menjamin masa depan generasi.

Tatanan Sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang kemudian harus berinteraksi antara satu individu dengan individu yang lain, di situlah terbentuk sebuah kelompok-kelompok dan dari kelompok-kelompok itulah terbentuklah masyarakat (society).

Tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan ini harus dibangun secara baik antara generasi ke generasi, baik generasi muda maupun generasi tua sehingga akan terlihat ada bentuk kerja sama dalam menciptakan atmosfer kebersamaan yang ideal. Antara generasi muda dan generasi tua mestinya saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Kendala besar yang selama ini dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat kita terjadi karena ada yang namanya “patahan komunikasi” antara generasi ke generasi itu sendiri.

Dan yang paling terpenting dari itu adalah bagaimana kita mampu menciptakan masyarakat madani (civiel society) dalam tatanan-tatanan sosial kehidupan bermasyarakat. Masyarakat sosial yang mampu merasakan kelebihan-kelebihan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Agar tidak ada label yang menempel pada generasi kita yakni “generasi yang ketinggalan zaman”. Hemat saya tatanan sosial kehidupan kita akan terbangun dengan baik apabila individu-individu yang ada dalam masyarakat itu memiliki kesadaran diri dan kecerdasan secara totalitas.

Epilog

Dalam proses perjalanan bersejarah bangsa Indonesia saat meraih kemerdekaan secara politis, jika dilihat secara saksama maka kita akan menemukan kelompok penentu dalam mencapai perjuangan itu yakni kelompok pemuda yang tampil sebagai generasi terbaik dalam catatan sejarah bangsa. Sebab kita harus jujur pada sejarah. (Soe Hoe Gie, 2005: ix).

Olehnya itu, generasi mudalah yang harus menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan kita.

Generasi saat ini tidak harus terlena dengan cerita dan kejayaan generasi yang lalu, sebab setiap generasi punya zaman dan setiap zaman punya generasi. Generasi saat ini harus berani katakan inilah kita (generasi kekinian). Karena tugas kita selaku generasi adalah menjawab tantangan saat ini untuk hari esok.

Terakhir, kita harus banyak belajar dari Paulo Fereira yang mengubah lingkungannya dengan pendidikan, perjuangannya, dedikasinya sehingga masyarakat yang ada di lingkungannya itu merasakan arti pentingnya pendidikan dalam membangun lingkungan dan tatanan sosial yang baik. “Tatanan kehidupan sosial akan berjalan dengan baik apabila generasi ke generasi terdidik dengan baik”. (***)

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top