MALUKU

Protes Pelantikan Raja, Besok Warga Urung Duduki Kantor Bupati SBT

Kantor Bupati Seram Bagian Timur

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Warga adat Urung, Kecamatan Ukarsengan, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mengancam akan menduduki Kantor Bupati SBT jika pemerintah daerah setempat memaksa untuk melantik paksa, Abdul Haris Wokas sebagai raja di desa Urung.

Rencananya warga akan mendatangi Kantor Bupati di Kota Bula, Senin (26/3/2018) besok guna meminta membatalkan pelantikan tersebut. Warga menilai pelantikan Haris Wokas sebagai Raja Urung cacat hukum.

Warga pun menuntut agar bupati, Mukti Keliobas segera membatalkan pelantikan sepihak dan melakukan pemilihan raja sesuai ketentuan adat seperti yang diamanatkan undang-undang.

“Kami melihat ada pihak-pihak yang sengaja memaksakan pelantikan Raja Urung, sehingga mengabaikan peraturan Daerah Nomor 07 tentang pemilihan raja. Jika pemerintah Kabupaten tetap memaksakan pelantikan, kami khawatir bisa terjadi konflik di masyarakat,” ujar Ahmad Rifai Wokas, tokoh masyarakat di Negeri Urung, kepada wartawan, Minggu (25/3/2018)

Dikatakan, pemerintah harus bijak melihat potensi-potensi konflik di masyarakat, sehingga bisa menghindari aksi-aksi yang tidak diinginkan. Masa di bawah sudah sangat geram terhadap cara-cara yang tidak adil.

“Calon kandidat raja yang diusulkan ke pemerintah daerah itu lebih dari satu orang, sehingga wajib dilakukan pemilihan secara adat oleh mata rumah parenta. Itu ketentuan adat, tidak boleh dilanggar,” tegas Rifai.

Jika dipaksakan, lanjut Rifai, sama saja pemerintah sengaja membiarkan terjadi gesekan di masyarakat. Bahkan bisa berujung ke konflik yang antar warga l.

“Ketegangan ini sudah tampak beberapa waktu lalu sejak kabar pelantikan paksa Haris Wokas oleh bupati, tanpa melalui pemilihan. Ini yang kita khawatirkan,” terang Rifai.

Sebelumnya, penolakan atas pelantikan Haris wokas sudah dilakukan jauh sebelumnya. Haris adalah raja Urung yang sudah menjabat selama 41 tahun.

Warga mempertanyakan kinerja Haris karena pembangunan di Urung tidak pernah berjalan. Kantor Desa dan rumah raja saja tidak dibangun. Sementara harta Haris terus bertambah, kini dia memiliki penginapan dan mobil pribadi.

“Tidak ada pembangunan disana (Urung), yang berbeda cuma kekayaan rajanya, sekarang sudah punya penginapan dan mobil pribadi,” ujar Najam Pattiekun, salah satu warga Urung. (SMJ).

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top