MALUKU

Saat Polda Maluku Menawarkan Solusi untuk Masalah Sopi

Wakapolda Maluku, Brigjen Pol Hasanudin saat menyampaikan sambutannya dalam acara Fokus Group Diskusi dengan tema Sopi, Masalah dan Solusi di Rupatama Polda Maluku, Sabtu (3/5/2018)

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Sopi, minuman keras tradisional asal Maluku sejak lama telah menjadi nadi kehidupan bagi sebagian masyarakat di daerah Maluku. Dari sopi, sebagian warga Maluku mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Sebagai salah satu sumber mata pencaharian bagi sebagian masyarakat di Maluku, sopi seolah telah menjadi berkah sejak dahulu kala. Itu karena banyak warga di Maluku yang hidup dari hasil penjualan sopi, bahkan banyak masyarakat Maluku yang menjadi pegawai perkantoran, polisi hingga tentara berkat sopi.

Selain sebagai sumber penghidupan dan penopang ekonomi keluarga, sopi juga punya peran sentral dalam eksistensi masyarakat adat di Maluku. Hal itu tercermin dari sejumlah tradisi adat masyarakat Maluku yang kerap menempatkan sopi sebagai simbol penting dalam ritual adat.

Tak mengherankan di beberapa daerah di Maluku, banyak ritual adat termasuk penyambutan tamu di suatu daerah, sopi kerap menjadi bagian penting dalam prosesi adat.

Namun tidak dapat dipungkiri, keberadaan sopi juga kerap ditentang lantaran pengaruhnya yang sangat buruk dalam kehidupan masyarakat. Berbagai fakta membuktikan bahwa banyak kasus kekerasan termasuk konflik antarkampung dan sejumlah kasus kejahatan lainnya bersumber dari sopi.

Itu sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir, seluruh Polres dibawa Polda Maluku gencar melakukan upaya pemberantasan terhadap peredaran minuman memabukan tersebut. Upaya polisi untuk memberantas peredaran sopi tidak hanya dengan mendatangi tempat-tempat penjualan, namun juga dengan menggelar razia di pelabuhan, dermaga hingga terminal.

Tak terhitung lagi berapa jumlah liter sopi yang telah disita dan dimusnahkan oleh polisi di daerah ini. Sebab setiap hari ada saja sopi yang disita petugas polisi dari tangan masyarakat baik dalam razia maupun penangkapan langsung.

Berbagai upaya yang dilakukan polisi untuk memberantas sopi di tengah-tengah masyarakat tersebut bukanlah tanpa alasan. Paslanya dari hasil analisa dan pemetaan yang dilakukan, polisi berkesimpulan jika sopi merupakan sumber konflik di masyarakat serta sumber dari berbagai bentuk aksi kejahatan termasuk juga kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan anak.

Namun berbagai fakta tersebut tidak lantas membuat polisi menjadi kalap untuk menjadikan sopi sebagai musuh utama, sebab polisi juga menyadari bahwa sopi oleh sebagian masyarakat di Maluku telah menjadi sumber penghidupan bagi keluarga mereka sejak dahulu kala.

Berangkat dari berbagai persoalan itulah, Polda Maluku saat ini mulai mencoba menawarkan solusi untuk menjadikan sopi sebagai sumber penghidupan tanpa harus melahirkan masalah ditengah-tengah masyarakat.

Sopi, Masalah dan Solusi

Atas berbagai pertimbangan sosial kemasyarakatan yang terjadi di Maluku, maka Polda Maluku akhirnya mulai mencari solusi untuk mengatasi dampak buruk dari peredaran sopi di masyarakat dan juga menyelamatkan warga yang menggantungkan hidupnya dari sopi selama ini.

Berbagai upaya untuk mencari solusi penyelesaian masalah sopi tersebut dilakukan melalui Fokus Group Diskusi (FGD), yang digelar Direktorat Narkoba Polda Maluku di ruang rapat utama (Rupatama) Kantor Polda Maluku, Kamis (3/5/2018).

Kegiatan yang mengusung tema ‘Sopi, Masalah dan Solusi” itu dipimpim langsung oleh Wakapolda Maluku, Brigjen Pol Hasanudin.

Kegiatan itu juga ikut dihadiri oleh Ketua DPRD Provinsi Maluku, Edwin Huwae, Kajati Maluku, Ketua Pengadilan Tinggi Maluku, Rektor Universitas Pattimra (Unpatti) dan pimpinan lembaga umat Bergama di Maluku, seperti  Ketua BPH Sinode GPM, Ketua Walubi Prov Maluku, Ketua MUI Maluku serta Imam Masjid Raya Alfatah.

Sejumlah pejabat berwenang lainnya juga hadir dalam acara tersebut seperti Kepala Disperindag Maluku, Kepala Biro Hukum Provinsi Maluku, Ketua Komisi C DPRD Maluku, Ketua Balai POM Ambon, Kapendam XVI Pattimura hingga pimpinan OKP dan pemangku adat yang tergabung dalam majelis Latupati Maluku.

Wakapolda Hasanudin mengatakan, sopi bukanlah barang asing bagi orang Maluku, sebab minuman tradisional yang telah ada sejak lama tersebut kerap digunakan dalam berbagai tradisi adat di Maluku. Sopi juga telah menjadi mata pencaharian bagi sebagian masyarakat di Maluku.

“Minuman sopi bukan hal  asing lagi di telinga masyarakat Maluku karena minuman ini adalah salah satu minuman tradisional yang biasa di gunakan dalam urusan adat dan budaya di Maluku serta  sudah menjadi satu mata pencaharian para petani kita,”ungkapnya dalam acara tersebut.

Hasanudin mengakui, meski sopi selama ini menjadi sumber pemicu terjadinya maslaah sosial di masyarakat, namun banyak warga Maluku yang juga menggantungkan hidupnya dari sopi termasuk untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

“Dengan penghasialan dari sopi masyarakat bisa membiayai anak-anak meraka sampai menjadi pengawai negeri, TNI dan Polri bahkan ada juga yang lebih dari pada itu,”katanya.

Dia berharap lewat FGD yang dilakukan itu, Polda Maluku ingin mencari solusi bersama segenap pemangku kepentingan lainnya guna membantu pemerintah daerah dalam menangani maslaah sopi yang kerap menjadi pemicu terjadinya problem sosial di masyarakat.

“Harapannya lewat kegiatan ini akan ada solusi yang  bermanfaat untuk maslaah ini sehingga semua masyarakat bisa hidup dengan tenang dan sejahtera,”harapnya.

Air Manise

Direktur Narkoba Polda Maluku, Kombes Pol Thein Tabero yang hadir dalam kesempatan itu ikut menyampaikan berbagai pikirannya dalam menangani masalah peredaran sopi di Maluku.

Menurut Tabero sopi yang selama ini menjadi sumber kejahatan dan berbagai konflik di masyarakat harus dapat dikelola dengan baik sehingga tidak menjadi sumber masalah yang berkelanjutan.

Dia pun menawarkan agar pemerintah daerah dan instansi berwenang kedepan dapat mendorong para petani aren untuk tidak harus memproduksi sopi dengan skala besar kemudian ijual bebas ke masyarakat, sebab hal itu lebih mendatangkan masalah namun sebaiknya aren diproduksi  sebagai gula aren yang dapat mendatangkan keuntungan ekonomis bagi para petani.

“Kami harapkan agar pemerintah bisa meberdayakan petani koli dan aren agar airnya di buatkan untuk air manise/gula agar tidak diprodiksi lagi menjadi sopi,”katanya.

Menurut Tabero dari hasil surveyi yang dilakukan pihaknya, setiap hari petani aren bisa memproduksi sebanyak 20 loiter sopi dan sopi-sopi itu kemudian akan dijual lagi ke masyarakat dengan harga Rp 20.000 per liter.

Jika petani lebih focus untuk memproduksi ‘air manise’ maka tidak menutup kemungkinan produk yang dihasilkan itu akan lebih bermanfaat dan mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar, apalagi pemerintah dapat menyediakan akses bagi para petani untuk menjual hasil produksinya tersebut.

“Bila perlu produk air mansie dari Maluku itu diekspor hingga ke mancanegara, saya kira itu akan lebih menguntungkan petani,”katanya.

Dalam kesempatan itu sejumlah akademisi dan pihak berwenang lainnya yang hadir dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan pikurannya terkait masalah tersebut. Salah satunya adalah J.N.Soukotta yang mengaku telah meneliti sopi sejak 15 tahun lalu.

Soukotta mengibaratkan sopi seperti air emas karena keuntungan yang didapat dari penjualan sopi lebih besar dari harga 1 liter solar. Namun disisi lain kata dia, banyak masalah sosial dan keamanan di Maluku kerap dipicu dari sopi.

“Maka dari itu solusi untuk hal ini kami menawarkan agar produk sopi dapat diproduksi dengan kadar alkohol yang aman untuk di komsumsi, saya berfikir hal ini  juga membantu petani untuk bisah mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dan juga bisah membiyayai anak-anak mereka untuk bisah meraih cita-cita,”paparnya.

Adapun Imam Masjid Raya Al Fatah Ambon, Ustaz Hasanusi menyampaikan agar sopi tidak boleh di produksi dan dijual bebas di masyarakat karena sopi merupakan minuman keras yang kerap menimbulkan masalah ditengah-tengah kehidupan sosial masyarakat.

“Sopi merupakan minuman keras yang selalu menjadi penyebab masalah di masyarakat jadi jangan sampai diedarkan secara bebas,”katanya.

Hasil Rekomendasi

Setelah melalui pembahasan panjang dalam forum diskusi tersebut,  akhirnya dirumuskanlah sejumlah rekomendasi yang menjadi poin penting dalam permasalahan tersebut yakni:

Pertama,  mendorong instansi/lembaga terkait untuk mendukung terlaksananya program”Air Manise” sebagai solusi penemaganan permasalahan minuman tradisional sopi di Maluku, baik melalui kebijakan regulasi maupun kebijakan strategi lainya.

Kedua,  mendorong dilakukan kesepakatan bersama (MOU) kalu antara polda Maluku, pemerintah daerah dan pihak ketiga untuk menyusun tim terpadu dalam pengrlolaan air Aren dan Air Koli menjadi minuman tradisional sopi dan minuman beralkohol moderen.

Ketiga, menyusun road map dengan green desain berkaitan dengan rencana kegiatan pelaksanaan tim terpadu untuk menindaklanjuti program”Air Manise” dan alternatif penyelesaian masalah tentang sopi.

Keempat, mendorong pembentukan asosiasi industri sopi moderen dan asosiasi petani aren dan koli sebagai pihak ketiga yang akan bermitra dengan unsur Polri,TNI, Pemerintah dan lembaga terkait lainnya di tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota. (SMK)

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top