AMBOINA

Said Assagaff Beri Klarifikasi Soal Insiden Rumah Kopi Lela Tanpa Kata Maaf

Calon Gubernur Maluku, Said Assagaff

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Tiga hari setelah insiden kekerasan dan intimidasi terhadap sejumlah jurnalis di Rumah Kopi Lela, di kawasan Jalan Sam Ratulangi Ambon, Calon Gubernur Maluku, Said Assagaff langsung menyampaikan klarifikasi soal insiden tersebut.

Said Assagaff melalui kuasa hukumnya, Fahri Bachmid, menyampaikan surat klarifikasi itu kepada Pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ambon. Surat klarifikasi itu disampaikan ke pengurus AJI Ambon lantaran dua korban dalam insiden itu adalah Anggota AJI Ambon.

Dalam surat klarifikasi bernomor A .08-Adm/SKK/FB & A/III/2018 tersebut, Said Assagaff menyebut insiden penganiayaan dan intimidasi yang terjadi itu bersifat ‘By Accident’ dan itu terjadi secara spontanitas yang didasarkan atas kesalapahaman.

“Bahwa terkait peristiwa yang terjadi pada hari Kamis (29/3/2018) sekitar pukul 16.30 WIT yang bertempat di Warung Kopi Lela Jalan Sam Ratulangi adalah bersifat ‘By Accident’ yang muaranya adalah sesuatu yang tidak dikehendaki secara bersama oleh kita semua, kami sangat prihatin dan menyayangkan incident yang demikian itu,”ungkap Fahri Bachmid sebagaimana tertuang dalam surat klarifikasi yang juga diterima Serambi Maluku.com, Minggu (1/4/2018).

Baca Juga: Intimidasi Waratwan, Said Assagaff Dilaporkan ke Polisi

Menurut Fahri, insiden yang terjadi itu diluar kendali Said Assagaff sebagai pribadi maupun calon gubernur Maluku.

Sebelumnya dalam insiden itu, Said Assagaff dengan suara lantang memerintahkan salah satu tim suksesnya untuk merampas hanphone yang digunakan salah seorang waratwan Harian Rakyat Maluku, Sam Usman Hatuina untuk mendokumentasikan Said bersama sejumlah pimpinan SKPD termasuk Sekda Maluku yang saat itus ednag ngopi di rumah kopi tersbeut.

“Beliau sebagai pribadi dan calon gubernur Maluku juga sangat menyayangkan serta menyampaikan rasa keprihatinan yang sangat mendalam atas peristiwa tersebut,”kata Fahri.

Baca Juga:IJTI Maluku Desak Polisi Periksa ASN yang Intimidasi Waratwan

Fahri menyebut, Said Assagaff baik secara pribadi maupun sebagai calon gubernur Maluku adalah sosok yang paling menghargai profesi jurnalisme, sebab kata Fahri kliennya itu menyadari kalau posisi pers sangatlah strategis dalam rangka mendorong pembangunan daerah Maluku.

“Maluku dibawa kepemimpinan Bapak Gubernur Said Assagaff berlangsung dalam iklim yang kondusif dan konstruktif, karena kami menyadari sungguh peran dan eksistensi pers serta kontribusi aktifnya dalam mengakselerasi program-program pemerintah,”paparnya.

Fahri menyebut bahwa Said Assagaff selama ini sangat pro terhadap kebebasan pers sebagaimana diatur dalam Undnag-Undnag Nomor 40 Tahun 1999 dan Peraturan Dewan Pers tentang standar perlindungan pers.

Fahri mengakui bahwa kemerdekaan Pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan bagian penting dari kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat. Wartawan adalah pilar utama kemerdekaan Pers. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas profesinya wartawan mutlak mendapat perlindungan hukum dari Negara, masyarakat, dan perusahaan pers.

“Bahwa kami sangat memahami hakikat dan filosofi dibalik lahirnya UU RI Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang menegaskan bahwa pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang professional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari pihak manapun,” beber Fahri.

Fahri mengungkapkan atas insiden itu pihaknya terus membangun komunikasi yang intens dengan dua waratwan yang menjadi korban dalam insiden tersebut guna menyelesaikan masalah yang terjadi itu.

“Kami secara pribadi dengan kesadaran penuh telah secara intens melakukan komunikasi yang baik dan berimbang dengan korban guna kepentingan penyelesaian perosalan tersebut secara terhormat serta bermartabat dengans enantiasa mengedepankan prinsip Hak Azasi Manusia serta sesama orang basudara,”ungkapnya.

Lebih lanjut, Fahri mengungkapkan pihaknya snagat menyadari bahwa hakikat penghormatan atas pribadi maupun institusi pers sangatlah penting dan dalam kasus tersebut, dia berharap agar masalah itu dapat didudukan secara konstekstual dan objektif serta bebas dari anasir-anasir politis yang dapat menyebabkan peroalan menjadi bias.

“Bahwa mengenai langkah pelaporan yang dilakukan oleh korban ke pihak kepolisian adalah bagian dari hak konstitusional yang dapat kami maklumi dan hargai, karena pada prinsipnya semua warga Negara sama di mata hukum,”katanya (SMJ).

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top