POLITIK

Soal Wacana Pemindahan Ibu Kota ke Pulau Seram, Ini Tanggapan AT

Abdullah Tuasikal melakukan salam komando dengan Said Assagaff

AMBON,SERAMBIMALUKU.com-Ketua Tim Relawan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku, Said Assagaff-Anderias Rentanubun (SANTUN), Abdullah Tuasikal angkat bicara soal wacana pemindahan ibu kota provinsi Maluku dari Ambon ke Pulau Seram yang dihembuskan kubu Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO) menjelang Pilkada Maluku 2018.

Menurut AT sapaan akrab Abdullah Tuasikal, wacana pemindahan ibu kota provinsi ke Pulau Seram hanyalah strategi dari calon tertentu untuk meraup suara di Pilkada Maluku. Bagi AT, pemindahan ibu kota ke Pulau Seram tidak memiliki landasan hokum yang jelas.

“Itu asal-asalan saja, karena tidak ada landasan hukum yang jelas,”kata AT kepada waratwan, Rabu (21/3/2018).

Sebelumnya Ketua Pemenangan Pasangan BAILEO, Karel Albert Ralahalu mengatakan bahwa pasangan BAILEO memiliki tugas berat untuk memindahkan ibu kota provinsi Maluku dari Ambon ke Pulau Seram.

Karel mengatakan jika kota Ambon sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai pusat pemerintahan, sebab Ambon sudah sangat padat dan penduduk di Kota Ambon terus bertambah. Kota Ambon kata Karel harus dijadikan kota perdagangan dan pusat pendidikan.

Namun menurut AT, justru Karel telah gagal memindahkan ibu kota provinsi Maluku ke Pulau Seram disaat dia berkuasa. AT mengaku Karel memang telah meletakan batu pertama ibu kota provinsi Maluku di Pulau Seram, sayangnya itu tidak dilandasi peraturan daerah.

“Itu hanya proyek asal-asalan saja yang sengaja dibuat menjadi Bom waktu. Sebab pada saat peletakan batu pertama , pak Karel Albert Ralahallu sudah mau turun dari jabatannya sebagai Gubernur, dan pemindahan itu juga tidak ada legalitas hukumnya, “paparnya.

Dia menilai, wacana pemindahan ibu kota provinsi Maluku ke Pulau Seram sebaiknya tidak perlu dijadikan sebagai kampanye politik pada pemilihan Gubernur Maluku 2018. Sebab, pada saat upaya tersebut telah gagal saat Karel menjabat sebagai gubernur Maluku.

“Pak Karel melakukan program pemindahan ibu kota provinsi ke pulau seram, saat mau turun jabatan. Belum tuntas dilakukan, sekarang sudah mengutarakan program itu dalam Pilkada Maluku 2018. Lalu selama berapa tahun ini pak Karel kemana, ” paparnya.

Dia menilai, jika ingin ibu kota provinsi Maluku berada di Pulau Seram seharusnya peletakan batu pertama sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum turun dari jabatan sebagai Gubernur Maluku, selain itu perlu disiapkan peraturan daerah agar memiliki kekuatan hukum.

“Selama ini pak Karel dimana, mengapa tidak mendesak ke DPRD agar membuat Perdanya. Sekarang beliau sudah turun baru mau menyinggung soal pemindahan ibu kota dengan kandidat lain,”papar AT.

Dia mengaku wacana yang sengaja dihembuskan itu memang strategi untuk menyerang pasangan SANTUN, namun bagi dia masyarakat di Pulau Seram saat ini sudah cerdas untuk melihat masalah tersebut.

“Masyarakat Seram sekarang sudah cerdas, dan mereka juga sudah tahu tentang semua prosedur pemindahan ibu Kota itu. Jadi jangan bawa isu itu dalam pemilihan Gubernur Maluku 2018, sebab itu hanya wacana yang sudah basi, “paparnya. (SME)

Click to comment

BERITA TERKINI

To Top